Denan Saleh (70) tampak sangat bersemangat di antara penyandang parkinson lainnya. Tangannya berusaha menggetarkan angklung membunyikan nada "re" mengikuti arahan instruktur musik dalam acara "Senada Seirama Bersama Parkinson: Yuk Main Angklung" yang digelar di Museum Nasional, Jakarta, Minggu (2/5/2010).
"Saya memang suka musik. Saya biasa denger keroncong," kata Denan yang ditemani istrinya dari Bandung ke Jakarta. Denan yang menderita parkinson sejak 10 tahun lalu itu mengaku baru pertama kali mencoba memainkan angklung.
"Senang, suaranya bagus, saya mainin nada re," ujar pria berambut putih itu.
Memang, sebagai penderita parkinson, Denan mengaku sedikit kesulitan membunyikan alat musik bambu tersebut. Tangannya sulit dikontrol untuk menggerakkan benda sesuai yang dia inginkan. Mulanya, Denan mengalami gejala parkinson ketika dia mengendarai mobil pribadinya. Saat itu, kakinya tidak dapat menginjak rem mobil dan terus-terusan menginjak gas. "Untungnya, saya tidak celaka," kata Denan.
Gejala lainnya terasa saat Denan menaiki anak tangga di kantornya. Saat ingin naik, kaki kanan Denan tertinggal di belakang, tidak dapat diangkat ke anak tangga berikutnya. Dari situlah Denan kemudian berkonsultasi dengan dokter dan divonis menyandang parkinson.
"Setelah itu saya minum obat dokter saja dan minum obat dari mengkudu," katanya.
Sebelumnya, Denan mengaku tidak tahu pentingnya musik untuk penyandang parkinson. Yang dia tahu, musik keroncong itu menyenangkan dan dia hobi bermain organ. Memang, musik bermanfaat bagi penyandang parkinson untuk membantu mereka memulai gerakan. Seperti yang dikatakan Ketua Yayasan Peduli Parkinson Indonesia Banon Sukoandari, musik terutama perkusi seperti angklung dapat melatih kognisi penyandang parkinson.
"Dengan musik juga ada rasa kegembiraan, memperbaiki mood, sosialisasi, sekaligus upaya untuk melestarikan budaya," kata dr Banon yang ditemui di Museum Nasional, Jakarta, Minggu.
Meskipun demikian, bermain angklung, menurut dr Banon, sangat sulit dilakukan penyandang parkinson. "Karena angklung perlu gerakan pas tepat, pada waktu nada itu ada, harus digetarkan, bukan hal yang mudah, mereka cenderung bergerak sendiri dan susah dihentikan," tambahnya.
Namun, bermain alat musik seperti angklung dapat menjadi upaya meminimalisasi dampak parkinson. "Di luar negeri sudah mulai dilakukan, minimal ini suatu upaya, belum bisa dicegah, memang penyakit ini belum diketahui penyebabnya," tutur dr Banon.
Penyakit parkinson adalah penyakit ketuaan yang menyerang otak dengan gejala gangguan pergerakan, kaku sendi, gemetar, keseimbangan terganggu, dan kognisi terganggu. Di Indonesia, sekitar 0,1 persen dari seluruh penduduk usia 40 tahun terserang parkinson. Menurut dr Banon, parkinson menyerang mereka yang berusia 40-70 tahun dengan puncaknya pada usia 60.
















0 komentar:
Posting Komentar